Anggika Berani Marahi Polisi, Saksikan Sang Prawira

0
70
Bagikan

BANTEN, TV10Newsgrup.Com – Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu oleh sahabat Humas Polri telah tiba waktunya.

Kini Perdana Anggika Bolsterli (24) menerima tawaran film layar lebar yang bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia.

Dengan demikian, Anggika Bolsterli menerima tawaran memerankan peran Nauli, gadis desa asal Danau Toba, Sumatera Utara, dalam film Sang Prawira.

Film Sang Prawira merupakan karya Ponti Gea bersama Mabes Polri dan Polda Sumatera Utara.

Selanjutnya, Sang Prawira mengisahkan tentang perjalanan pemuda bernama Horas yang menjadi polisi.

Tak lupa, Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol. Edy Sumardi P Sik. M.H menyebutkan kepada awak media pada hari Minggu (24/11) bahwa telah dilaksanakannya gala primiere film Sang Perwira di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan.

Dijelaskan lagi dari Edy, untuk dalam Film ini merupakan pemeran Horas seorang polisi yakni Ipda Dimas Adit S dan Anggika Bolsterli mengaku geregetan melihat akting perwira polisi tersebut yang menjadi lawan mainnya.

“Cukup bikin geregetan. Maaf bukannya merendahkan, tetapi ketika aku sampai lokasi, ya memang bakat aktingnya kurang,” kata Anggika Bolsterli.

Selain itu, Anggika Bolsterli mengatakannya saat gala premiere film Sang Prawira di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan.

Rasa jengkel ada, karena adegan yang penuh emosional harus dimainkannya bersama Iptu Dimas seperti dalam skenario film.

“Memang prosesnya cepat ya. Cuma aku sebagai yang lebih dulu akting, maka ia mencoba mengarahkan dan memancing emosinya Dimas,” imbuhnya.

Meski begitu, bukan maksud aktris  kelahiran Jakarta, 21 Juni 1995, itu  untuk menggurui sang polisi berakting.

Namun, dia ingin tampil total dalam film yang dibintangi dapat memberikan karya terbaik.

“Kayaknya kalau mereka ikut perintah, aku orang awam yang berani marahin polisi karena aku memberikan pembelajaran.

Sebab, aku hanya mancing dan marahin Horas supaya bisa menangis dan memainkan emosinya.

Menurut keterangan dia, kualitas berakting seseorang itu butuh waktu dan jam terbang.

Ia juga memberi saran kepada anggota polisi yang nantinya ingin meneruskan bakat aktingnya itu.

“Walaupun semua dapat perintah, akting soal perasaan enggak mesti ikut perintah aja. Apa pun itu harus pakai perasaan,” jelasnya.

Untuk Film Sang Prawira bercerita menceritakan sosok Horas, pemuda yang memiliki cita-cita ingin membanggakan keluarganya bangkit dari kemiskinan.

Supaya bisa melawan takdir garis kemiskinan, Horas pun mendaftar ke akademi kepolisian (akpol).

Dari Keinginan menjadi polisi pun terwujud.” Horas berhasil menjadi seorang polisi yang mampu membanggakan dan membangkitkan garis kehidupan keluarganya.

Namun, dibalik kesuksesannya itu, kehidupan Horas  terbilang tak mulus.

Sehingga perjalanan hidupanya, Horas kehilangan orang tua, kekasih, dan sahabat.

Selain itu, Ponti Gea tak hanya menceritakan tentang perjalanan Horas menjadi polisi.

Tentang integritas dan kehidupan kepolisian, melainkan keindahan Danau Toba.

Melihat bersama Mabes Polri dan Polda Sumatera Utara, Ponti Gea juga memperlihatkan keindahan budaya dan wisatanya”, tandasnya.(Ary)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + 15 =