Bagikan

TV10Newsgrup.Com, Tubaba – Hari pertama siswa masuk sekolah merupakan pertemuan perdana antara pihak sekolah dengan orang tua/walimurid yang mengantar putra-putrinya untuk dititipkan pada guru agar dididik di sekolah.

Hal itu, Hendaknya menjadi momentum penting terbangunnya kesepahaman antara walimurid dengan pihak sekolah, demikian yang dikatakan Elia Sunarto, dari Gerakan Perlindungan Anak pada acara Masa pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Gunung Agung pada hari Kamis tanggal 11 Juli 2019.

“Untuk Hari ini, menjadi momentum berharga untuk membangun komitmen orang tua dengan sekolah”,  tegas Elia Sunarto.

Ia juga Aktivis Anak, yang sempat berbagi pengalamannya dalam mendampingi anak-anak bermasalah.

Seperti Banyak terjadi gesekan antara guru dengan wali murid hanya karena tidak adanya komunikasi dan kurangnya kepercayaan orang tua pada manajemen penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

“Selain itu, Dia mengungkapkan, bahwa kasus kekerasan yang sering terjadi di sekolah, korbannya tak selalu anak.

Tapi dalam beberapa kasus terungkap guru sebagai korban kekerasan dengan pelaku justru peserta didik, dan atau orang tua siswa atau pihak ketiga, Jumat (12/07).

“Disinilah mari  membangun komunikasi yang baik, orang tua harus sering menanyakan perkembangan anaknya ke sekolah.

Jangan cuma datang kalau merasa tersinggung karena berita anaknya mendapat perlakuan kurang baik dari sekolah”, Papar Elia Sunarto.

Menurut keterangan Elia Sunarto, dalam keberhasilan pendidikan anak juga ditentukan oleh disiplin yang diterapkan di sekolah.

Pria yang punya hobi menulis ini mengajak walimurid yang hadir tidak hanya mendukung program yang diterapkan di SMPN 2 Gunung Agung tetapi juga menerapkan program baik tersebut di kehidupan sehari-hari, di rumah.

“Oleh karena itu,  SMPN 2 Gunung Agung di Tiyuh Marga Jaya (SP4C) Kecamatan Gunung Agung Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) saat ini dengan kepala sekolah Nur Hamid, M. Pd yang memiliki slogan “SMPN 2 Guna lebih baik, lebih baik SMPN 2 Guna”.

Ini semua telah menerapkan program penanggulangan sampah non organik dengan baik, anak-anak selalu diwajibkan berdoa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Adapun momen khusus giat gerakan literasi sekolah selain kegiatan olahraga dan kepramukaan.

Setiap hari kamis selama 10 menit melalui gerakan literasi setiap pelajar wajib membaca buku, termasuk kitab suci masing-masing dilanjutkan dengan sesion tanya jawab.

Ditempat yang terpisah, Nur Hamid selaku kepala sekolah membenarkan pihaknya membuat aturan cukup ketat untuk mendisiplinkan anak-anak.

“Maka sebelum pukul 07.00 WIB setiap hari saya, dewan guru, karyawan dan anak-anak sudah tiba di sekolah.

Semua itu aturan yang kita buat awalnya terasa berat, tapi tak hanya 4 bulan bahkan sudah hampir 16 bulan program ini berjalan tanpa hambatan.

Kini kita rasakan kepercayaan orang tua untuk menitipkan pendidikan putra-putrinya di sekolah ini meningkat dratis, kami bahkan sampai menolak siswa”, tandas kepala sekolah. (@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − fifteen =