Bagikan
Gambar : Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait

TV10Newsgrup.Com, Jakarta –  Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait telah memberikan apreasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pengadilan Negeri (PN) Bagkalan Madura, Selasa (8/10).

Yang telah memvonis 5 orang pelaku kejahatan seksual bergerombol (gengRAPE) dengan menerapkan ketentuan UU RI Nomor : 17 Tahun 2016 tentang Penerapan PERPU Nomor : 01 Tahun 2016.

Tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang pada intinya bahwa kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa.

Dan akhirnya memvonis 5 orang pelaku gengRAPE terbukti secara sah maupun meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana.

Demikian juga turut serta bertindak kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengan akhirnya menjatuhkan hukuman mati.

Dalam keterangan, Arist Merdeka Sirait menjelaskan bahwa vonis Hakim dengan menggunakan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 dan menetapkan bahwa Kejahatan Seksual merupakan “kejahatan luar biasa” mengingatkan publik kembali atas Vonis PN Sorong.

Di Papua Barat terhadap dua orang predator kejahatan seksual, memberikan uang dilakukan terhadap anak usia 7 tahun dengan hukuman Seumur hidup, walaupun putusan itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa yakni hukuman mati.

Kemudian itu, dijelaskan Arist Merdeka Sirait kembali, bahwa dua bulan lalu kita juga dikejutkan dengan vonis PN Mojokerto yang menerapkan ketentuan UU yang sama terhadap pelaku kejahatan seksual dengan menjatuhkan hukuman fisik 12 tahun pidana penjara dan menambahkan dengan hukuman tambahan yakni kebiri (kastrasi) terhadap pelaku kejahatan seksual.

Untuk putusan hakim PN Mojokerto kemudian menimbulkan polemik serius “pro dan kontra” lintas profesi dan pemangku kepentingan “stakeholders” pegiat HAM secara khusus Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Tentang perdebatan Ini, terjadi karena hanya melihat dari sudut pandang dan hak pelaku.

Tetapi, tidak dari sudut dan perpektif anak sebagai korban yang tidak mampu membela dan melindungi dirinya”, tegas Arist.

Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika demi keadilan korban kejahatan seksual dan dalam perspektif perlindungan anak.

Komnad Perlindungan Anak Indonesia mendorong aparatur penegak hukum, Jaksa dan Hakim untuk menerapkan bahwa kejahatan seksual sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime)dan disetarakan dengan tindak pidana korupsi narkoba dan terorisme dengan hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati.

Dengan itu, penegakan hukum ini diyakini sebagai salah satu cara dan strategi melawan kejahatan seksual terhafap anak.

Oleh sebab itu, pantaslah bagi 5 orang gengRAPE di Bangkalan Madura mendapat hukuman mati.

Serta lima pemerkosa di Bangkalan dihukum mati karena mereka dengan sadis dan biadab memperkosa korban yang masih berusia 17 tahun.

Setelah melakukan perkosaan lalu mereka membunuh korban. Lebih sadisnya ikut dibunuh juga teman korbannya.

Berdasarkan putusan pengadilan negeri Bangkalan yang dikutip detik.com pada hari Rabu 2 Oktober 2019 bahwa peristiwa bencana itu terjadi pada 17 Mei 2017.

Dibukit Pantai Rongkang Desa Klayar Barat Bangkalan menjadi saksi bisu tentang adanya hal yang melakukan perbuatan itu.

Kasus bermula saat Muhammad Shohib, Muhammad Jafar, Muhammad Haji Muhammad dan Muhammad Hayat sedang nongkrong serta mereka sepakat mau gangguin orang pacaran di Pantai Rongkang.

Disisi lain Ahmad (17) sedang pacaran di Pantai Rongkang. Lima pelaku itu kemudian ramai-ramai mendatangi Ahmad dan korban.

Kemudian menodongkan pisau ke arah keduanya. pasangan itu kemudian digiring ke sebuah gua di tepi tebing Cepara dan juga menarik kerudung korban dan mengikat ke mulut Ahmad.

Selanjutnya, Muhammad mengayun-ayunkan celurit dan memberikan komando untuk membunuh Ahmad agar lebih mudah memperkosa kekasih Ahmad.

Sejurus kemudian dada Ahmad ditusuk hingga tewas. Untuk menghilangkan jejak jenazah amat disembunyikan di dalam gua setelah mati.

Gerombolan itu langsung teriak ramai-ramai kearah kekasih Ahmad. Lalu mereka memperkosanya dengan tidak berkeprimanusiaan mengakibatkan korban pingsan.

Sementara gerombolan itu, kemudian kebingungan dan akhirnya tercetus untuk membunuh korban. Mereka mencecik korban hingga meninggal dunia.

Untuk menghilangkan jejak, korban pemerkosaan ini. kemudian mayat tersebut disembunyikan di gua yang letaknya jauh di bawah karang.

Kini Jenazah keduanya baru ditemukan 2 bulan oleh pencari kayu bernama Riyono.

Dengan keadaan sudah Bau busuk membuat Yono penasaran mencari sumbernya.

Akan tetapi Riyono sangat kaget melihat dua jenazah nyaris tinggal tulang. Penemuan mayat itu membuat Geger Bangkalan.

Akhirnya polisi segera mengejar para pelaku hingga satu persatu bisa ditangkap masing-masing dengan berkas terpisah.

Yang paling akhir diadili adalah terdakwa Muhammad bin Ahmad bersalah melakukan tindak pidana bersama-sama melakukan pembunuhan dengan berencana dan melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati serta menjatuhkan pidana mati terhadap terdakwa.

Majelis hakim, Susanti Arsi Wibawani dengan anggota Teguh Wahyudi dan Johan Wahyu Hidayat telah memvonis hukuman mati.

Itu pun menyusul hukuman mati yang telah ditentukan kepada empat pelaku lainnya bahkan untuk Muhammad Hayat proses hukum yang sudah sampai tingkat kasasi.

Hasilnya Hakim Agung Andi Samsan Nganro dengan anggota Edi dan Margono menguatkan hukuman mati.

Ia juga menyatakan untuk Muhammad Hayat Al Adiyat Ali Bin Hasan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana maupun kekerasan memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya.

Atas putusan PN Sorong, PN Mojokerto dan PN Bangkalan Madura demikian juga kepada JPU atas kasus kejahatan seksual terhadap anak menggunakan UU RI Nomor 17 Tahun 2016.

Oleh kerena itu, Komnas Perlindungan Anak akan mempertimbangkan ketiga hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di masing-masing lembaga peradilan akan dianugerahi KOMNAS ANAK AWARD 2019.

Bersamaan dengan acara Selebrasi 21 Tahun KOMNAS Perlindungan Anak di akhir November 2019 di Jakarta.(@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 5 =