Bagikan

TV10Newsgrup.Com, Pati – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati telah menyelenggarakan Halaqoh Ekonomi Syariah di Ruang Penjawi Setda Pati, Sabtu (31/8).

Adapun acara yang dibuka oleh Bupati Pati Haryanto ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Direktur PBMT (Perhimpunan Baitul Maal wat Tamwil) Muhammad Ridwan dan Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah KH Ahmad Rofiq.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto dalam sambutannya mengatakan, meski tema halaqoh ini sudah cukup lama jadi perbincangan masyarakat, namun pihaknya terap menilai kegiatan ini merupakan prakarsa yang baik dari MUI Pati.

“Sebab mungkin ada yang belum memahami secara detail. Maka, semoga acara ini memberi pemahaman pada kita.

Khususnya umat muslim. Sebab, hal ini seringkali yang menjadi perdebatan. Tentang di dalamnya terdapat pembahasan penting mengenai riba, yang haram, atau larangan-larangan lainnya”, terang Bupati Pati.

Menurut keterangan Haryanto, pemahaman mengenai ekonomi syariah merupakan bagian dari tuntutan zaman, terutama di Indonesia.

Di mana masyarakatnya semakin concern terhadap syariah Islam. Hal ini, antara lain bisa dilihat dari maraknya pelayanan bernuansa syariah.

“Tidak hanya lembaga keuangan syariah. Bermunculan juga hotel syariah, salon syariah, dan lain-lain”, kata Haryanto.

Bagaimanapun, Bupati Haryanto berkata, bahwa pihaknya menyambut baik prakarsa MUI Pati dalam hal ini. Apalagi, menurutnya, tentang ini memang merupakan tugas dari pihak yang berilmu untuk memberi pemahaman kepada khalayak.

“Serta apalagi, kalau dihubungkan dengan visi dan misi saya dalam RPJMD 2017-2022, di situ ada penajaman dalam penanganan UMKM yang menjadi salah satu program prioritas kami. Hal ini tentu terkait dengan tema halaqoh ini”, jelas Bupati Haryanto.

Pada kesempatan kali ini, Ketua MUI Pati KH Abdul Mujib Sholeh mengatakan, meski kegiatan halaqoh ekonomi syariah semacam ini sudah kerap dilaksanakan sejak dulu.

Disinilah pihaknya tetap merasa perlu mengadakan di Pati. Sebab, menurutnya, masih banyak di antara umat Islam, bahkan juga kalangan santri, yang belum benar-benar memahami hakikat ekonomi syariah.

Sebenarnya, KH Abdul Mujib Sholeh menegaskan untuk dirinya merasa bersyukur dengan menjamurnya lembaga keuangan syariah di Indonesia.

“Terus terang, saya sebagai seorang muslim merasa bersyukur bahwa negara kita, walaupun bukan negara yang berdasarkan agama, namun ternyata mengesahkan adanya bank syariah.

Inilah yang perlu kita syukuri. Berdiri bank-bank syariah di daerah-daerah, baik swasta maupun milik pemerintah. Kemudian disusul dengan adanya BMT-BMT yang ibarat jamur di musim hujan”.

Namun, yang Ia sayangkan, pada praktiknya, masih ada beberapa lembaga keuangan berlabel syariah yang masih menjalankan sistem perbankan konvensional. Hal ini merupakan keprihatinan pribadinya.

Menceritakan pengalaman pribadinya, KH Abdul Mujib Sholeh Menyebutkan, dirinya pernah mendatangi sebuah BMT yang tergolong besar. Ia bermaksud menabungkan uang anaknya.

“Namun, saya cermati sistemnya, ternyata sama dengan konvensional. Maka saya minta dia menyampaikan ke atasannya bahwa ini menyalahi syariah”.

Di lain hari, ada pula bank swasta yang memakai simbol syariah berkunjung ke rumahnya dan menawari pinjaman. Namun, menurutnya, sistem yang dipakai ternyata juga tidak berbeda dari bank konvensional.

“Atas keprihatinan ini, saya sebagai yang dituakan di MUI Kabupaten Pati merasa perlu mengadakan halaqoh ini”.

Adapun peserta kegiatan ini antara lain perwakilan Ormas, Pondok Pesantren, dan lembaga keuangan syariah di Kabupaten Pati”, cetus KH. Abdul Mujib Sholeh . (@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =