Selamatkan Anak Indonesia Dari Dampak Gadget Dan Game Online

0
90
Bagikan

JAKARTA, TV10Newsgrup.Com -Indonesia adalah negara terbesar kelima didunia pelangan internet setelah Thailand , Philipina, Colombo dan India.

Ada 53,75% pelanggan internet adalah berusia 13-18 tahun.” hal ini Diperkirakan 38,01 % atau setara dengan 2,1 juta anak berusia dibawah 15 tahun adalah pengguna game online aktif.

Sementara itu, RS Jiwa di Cicarua, Jawa Barat tahun 2018/2019 mencatat ada 209 usia anak pernah mendapat layanan ranap inap karena terganggunya mental dan jiwa anak akibat dari ketergantungan gaged dan game online,Minggu (10/11).

Adapun sejumlah kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2019 kepada Komnas Perlindungan Anak sekitar yang sudah didapat pada situasi ketergantungan pada gaged menunjukan tanda-tanda menderita mata kabur, legam pada kelopak mata, gelisa dan cemas.

Serta nilai akademik terus menurun, emosional, mudah marah dan cuek akan lingkungan rumah maupun keluarga serta lingkungan sosialnya.

Sedangkan dampak anak tergantung gaged dan game onliine dapat dilihat pada kerusakan mental dan jiwa anak.

Seperti dampak pada otak, stres, depresi bahkan percobaan bunuh diri yang pada giliran anak menjadi sangat potensial menjadi pelaku maupun korban kekerasan dilingkungannya.

Disinilah anak yang sering berselancar dengan gaged dan game online kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Pada gilirannya menjadi anak yang anti sosial dan seringkali menjadi anak yang tidak taat pada etika maupun aturan dalam keluarga.

Jika kondisi ini kita biarkan, dan kita tak mampu memutus mata rantai anak, maka akan ketergantungan gaged dan game online ini.

Dengan hal itu, bisa dimungkinkan Indonesia akan kehilangan generasi (lost generation),” demikan disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia.

Di saat menghadiri acara Car Free Day (CFD) ini telah juga ada Kampanye tentang Selamatkan Anak dari Ketergantungan gaged dan game online di Bundaran Air mancur Hotel Indonesia.

Selanjutnya, Arist juga menjelaskan bahwa atas kondisi ini Komnas Perlindungan anak Indonesia telah mengambil sikap menolak Pemakaian Gaged dan game online secara berlebihan tanpa pengawasan dari orangtua dan keluarga.

Dan sudah saatnya orangtua dan keluarga menghilangkan pendekatan budaya permisif dalam memberikan pengasuhan pada anak”, tutur Arist.

Tak lupa, Dhanang Sasongko Sekjen Komnas Perlindungan Anak Indonesia dalam orasinya dihadapan ratusan guru PAUD peserta CFD menegaskan bahwa pada keadaan dan kondisi ini, orangtua harus mampu dan tega mengatakan TIDAK pada penggunaan gaged dan game online secara berlebihan tanpa pengawasan.

Oleh karena itu, berikanlah alternatif kegiatan lain agar bisa melupakan dan mengurangi waktu anak menggunakan gaged dan game online.

Disinilah, kampanye Selamatkan Anak dari dampak Gaged dan Game Online terhadap Kesehatan Mental maupun jiwa Anak yang sudah diselenggarakan dalam rangka memperingati Selebrasi 21 tahun Komnas Perlindungan anak Indonesia dan Hari Pahlawan 10 November 2019.

Kemudian juga dihadiri ratusan guru-guru PAUD yang tergabung dalam PAUD INTITUTE dan IMPAUDI Jakarta Timur juga Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Lampung beserta Jawa Barat.

Lebih jauh, Arist menjelaskan bahwa Gerakan Aksi Nasional TOLAK pada gaged dan game online dengan mengusung tema Saveour Traditional Games yang digagas Ibu Gubernur Provinsi Lampung dan LPA Lampung
telah dimulai dari provinsi Lampung awal Oktober 2019.

Melalui kegiatan KIDS EXPO, yakni aksi mengenalkan dan memperagakan permainan tradisional anak untuk anak-anak di Lampung.

Untuk Mengingat kondisi anak yang telah tergantung gaged dan game online dalam situasi darurat dan memprihatinkan serta terancam lost generation”, kata Komnas Perlindungan Anak dan PAUD Insitute mengajak masyarakat Indonesia untuk segera menyelamatkan anak dari dampak gaged dan game online.

Selamat acara menindaklanjuti Aksi Nasional Selamatkan Anak dari Dampak Gaged dan game online terhadap kesehatan mental maupun Jiwa Anak mengajak semua LPA untuk melakukan Aksi Nasional di masing-masing daerah dengan memanfaatkan Car Free Day setiap Minggu dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di daerah masing-masing”, pungkasnya.(@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − eight =