Permainan Tradisional Anak Berbasis Budaya ( SaveourTraditionalGame)

0
32
Bagikan
Gambar: Riana Sari Arrinal memukul Gong tanda dimulainya Gerakan Pelestarian Permainan Tradisional anak.

TV10Newsgrup.Com, Bandar Lampung –  Ditengah-tengah adanya gempuran permainanan anak impor di Indonesia, Riana Sari Arrinal Ibu Gubernur Bandar Lampung mengajak masyarakat Indonesia, Sabtu (19/10).

Dan secara khusus para orangtua di Lampung untuk mengenalkan pelestarian permainan  mengajarkan kembali permainan anak tentang tradisionil kepada anak-anak.

Hal Ini sangatlah penting bagi anak-anak untuk memberikan kesempatan agar mengembangkan bakat dan minat.

Serta waktu luang anak maupun pengembangan kepribadian anak berbasis budaya.

Sebab, permainan tradisional anak itu mengajarkan pada anak untuk saling kerjasama segala hal dalam menghormati dan solider diantara sesama anak-anak.

Demikian ajakan Bunda Paud Lampung Riana Sari Arrinal dihadapan ratusan anak PAUD, SD dan siswa maupun SMP beserta pegiat perlindungan anak.

Bagi para Pejabat dan kepala Dinas dilingkungan pemerintahan Propinsi Lampung, pada hari Kamis (17/10) ada acara di Mall Kedaton Lampung.

Gambar: Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak bermain dengan ratusan anak dengan permainan tradisional.

Sementara itu, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait menyambut baik ajakan bunda Paud Lampung mencanangkan dan mendeklarasikan untuk kembali mengenalkan serta mengajarkan kepada anak tentang permainan tradisional berbasis budaya lokal yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak.

Selain hal itu, Arist menambahkan pelestarian permainan tradisional Anak berbasis budaya lokal ini.

Patut mendapat dukungan semua komponen masyarakat khususnya pemerintah ditengah-tengah kepungan permainan tradisional.

Seperti impor sebagai upaya untuk melupakan anak terhadap gadget, games online, yang telah menjadi candu dikalangan anak-anak di Indonesia.

Oleh kerena itu, marilah Memberikan maupun mengenalkan dan mengajarkan permainan anak tradisionil supaya diyakini sebagai salah satu cara untuk mengurangi kecanduan anak terhadap Gawai.

Hasil Survey 2018 menemukan hampir 2,1 juta anak saat ini kecanduan gawai dan game online.

Yang lebih megejutkan lagi di Rumah Sakit Jiwa Cisarua Jawa Barat baru-baru ini, juga melaporkan telah datang 209 anak usia 5-15 tahun dalam kondisi menderita gangguan mental dan jiwa akibat kencanduan gawai, maupun game online.

Disinilah banyak anak-anak ditemukan saat ini mengalami ganguan mental dan jiwa, kerusakan mata.

Jika tidak memainkan gawai, penurunan nilai akademik anti dan kehilangan orientasi terhadap lingkungan sosial.

Tentang kecemasan itu, jika internet dan listrik mati, karena bisa percobaan bunuh diri”, terang Arist kepada awak media.

Sebagaimana tentang Keadaan ini,  para orangtua harus memperhatikan kepada anak dan agar tidak selalu sibuk bahkan tergantung pula pada handphone.

Sehingga bisa melupakan tugas dan tanggungjawabnya untuk mendidik dan mendampingi Anak.

Supaya biar tidak asyik sendiri dengan gadget dan game onlinenya tanpa kendali, yang penting anak tidak mengganggu keasyikan orangtua.

Selama acara dibuka tentang Gerakan Pencanangan Pelestarian Permainan Trasional Anak berbasis budaya dengan mengangkat tema #SAVE OUR TRADITIONAL GAME yang digagas Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lampung bersama Bunda Paud.

Semua ini, atas dukungan Komnas Perlindungan Anak dan akan terus dikembangkan, dikenalkan maupun disosialisasikan ke sekolah-sekolah.

Mulai dari tingkat Paud, SD ,SMP beserta komunitas-komunitas anak, demikian disampaikan Dede Haryadi selaku Ketua Panitia Pelaksana Pencanangan Pelestarian Permainan Tradisional Anak.

Dicelah-celah kegiatan tersebut, Bunda Paud Riana Sari Arrinal mendongeng dihadapan ratusan anak-anak dan Aryanto Wertha Ketua LPA Propinsi Lampung menyampaikan kepada media, bahwa pencanangan Nasional Pelestarian Permainan Tradisional Anak adalah salah satuk program LPA.

Bersama Komnas Perlindungan Anak yang dicanangkan bersama Bunda Paud Lampung dimulai dari Propinsi Lampung untuk diteruskan ke propinsi lainnya.

Untuk itu, kesediaan dan perhatian serius Bunda Paud Lampung mengembalikan dan mengenalkan keberadaan permainan tradisional anak yang sudah mulai punah dan ditinggalkan patut diberikan apresiasi”, cetus Aryanto.(@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 + thirteen =