Bagikan

TV10Newsgrup.Com, Pati – Bupati Pati Haryanto telah menghadiri Pencanangan Desa Sadar Kerukunan di Desa Giling, Kecamatan Gunungwungkal, pada hari Sabtu (7/9).

Selama acara pencanangan tersebut dilaksanakan di Balai Desa Giling, dan dihadiri oleh Ketua FKUB Pati Ahmad Khoiron, Kepala Kantor Kemenag Pati Imron, Forkopimcam Gunung Wungkal, dan para Kepala Desa se-Kecamatan Gunungwungkal.

Menurut keterangan Haryanto, bahwa sejatinya kerukunan antar umat beragama tidak hanya ada di Desa Giling.

Melainkan merata hampir di mana-mana.” Namun, bagi Haryanto, desa yang ditunjuk sebagai Desa Pancasila atau Desa Sadar Kerukunan memiliki spesifikasi tersendiri.

“Memang Desa Giling, Jrahi, dan Karangsari punya sesuatu yang spesifik. Dulu Karangsari ditetapkan sebagai Desa Pancasila.

Jrahi juga pernah. Kenapa demikian? Bisa dipastikan bahwa adat-istiadat dan kearifan lokal terjaga dengan baik,” kata Haryanto.

Sementara itu, Bupati Pati mengatakan, terpilihnya Kepala Desa berlatar belakang minoritas di Desa Giling juga menjadi satu penanda kerukunan dan toleransi.

Sunarsih, sang kepala desa yang beragama Buddha, terbukti bisa mewadahi aspirasi masyarakat yang mayoritas muslim.

“Hal Ini bukti bahwa dengan kepemimpinan Bu Kades yang berlatar belakang minoritas, aspirasi masyarakat bisa terwadahi.

Tentang Bukti ini, bahwa dia bisa memberi pelayanan terbaik, tidak membeda-bedakan,” tegas Bupati Pati.

Sekali lagi, Haryanto menegaskan, kepemimpinan di Indonesia memang seharusnya tidak mempermasalahkan status minoritas atau mayoritas.

“Maka mayoritas kalau tidak bisa jadi panutan dan tuntunan, pasti akan ditinggal masyarakat.

Sebaliknya, kalau minoritas bisa menjadi pelindung masyarakat, sudah tentu tidak akan ditinggalkan,” jelas Haryanto.

Pada kesempatan ini, Haryanto berpesan, Desa Giling yang telah dicanangkan sebagai Desa Sadar Kerukunan, harus menjadi contoh bagi desa-desa yang lain, minimal di Kecamatan Gunungwungkal.

“Disini saya apresiasi. Kerukunan yang sudah ada ini agar jadi contoh bagi desa lain yang sudah rukun ya ditingkatkan,” terang Haryanto.

“Oleh karena itu, Kepala Desa Giling Sunarsih menjelaskan, untuk masyarakat Desa Giling yang berjumlah 3.750 jiwa bisa menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

“Tentunya Mayoritas penduduk beragama Islam. Ada Buddha, Kristen, dan aliran kepercayaan.

Untuk Rumah ibadah ada 24. Terdiri atas 19 Masjid/Mushola, 4 Vihara serta Cetiya dan 1 Gereja.

Selain itu, Kehidupan masyarakat Giling relatif aman, kerukunan terjaga, tentang permasalahan yang terjadi bisa selalu diselesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan, serta Pelanggaran hukum hampir tidak ada”. Ungkap kepala Desa.

Demikian juga ditambahkan, Kepala Kantor Kemenag Pati Imron menjelaskan, untuk pemerintah pusat melalui Kemenag mempercayakan FKUB untuk melaksanakan kegiatan pencanangan desa sadar kerukunan.

Agar bisa dinikmati dan dirasakan kemaslahatannya oleh masyarakat Pati, di mana pluralisme dan toleransi sangat luar biasa.

“Insyaa Allah, pencanangan ini akan menjadi kekuatan luar biasa, di mana bangsa kita sering diuji berbagai permasalahan terkait kerukunan.

Supaya bisa menjadi jawaban. Disini saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.

Mudah-mudahan, kerjasama Kemenag Pati, FKUB, dan Pemerintah kabupaten bisa menjaga pilar kerukunan antar umat beragama.

Secara khusus, Imron menyebutkan selamat dan sukses atas terpilihnya Desa Giling sebagai desa sadar kerukunan.

Sebagaimana Bupati Haryanto sampaikan, Imron juga menyinggung mengenai latar belakang Kepala Desa Giling yang berasal dari agama minoritas.

“Ibu Kades tidak usah berpikir terlalu jauh, mengapa saya minoritas dipercaya masyarakat, mengapa saya minoritas dipilih menjadi Kades.

Itu semua sepenuhnya hak ada pada rakyat yang punya pertimbangan,” cetus Imron . (@gus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten + 15 =